Senin, 14 September 2009
kembali ke kampung halaman...
di tengah-tengah perasaan yg seneng sedih tadi..kemudian muncul satu perasaan lain lagi, yaitu perasaan yang mendorong aku untuk melihat kedepan "aku harus melakukan sesuatu sekarang" , harus ada yang aku lakukan sekarang... apa itu?? yah di kampung halamanku aku ingin memulai suatu usaha.. tp memang untuk memulai suatu usaha memang susah..ibarat menyetir mobil. saat belajar adalah saat yg paling sulit. tp begitu jalan, bisa kita arahkan kemana saja..melewati jalan bergelombang, jalan mulus atau jalan menanjak, semua pasti bisa terlewati.Selama kita punya visi pasti bisa!!! amin..God help me :)
Selasa, 25 Agustus 2009
Saatnya menepi
- Ditulis oleh Agustina Wijayani
Sahabat,
kadang hidup terasa berat
sebab kita mesti beranjak dewasa
untuk sanggup menahan
beban lebih besar
kadang hidup terasa melelahkan
sebab kita punya tanggung jawab
untuk menghasilkan hidup
yang berkualitas
kadang hidup terasa tak adil
sebab kita mesti selalu berjuang
untuk mencapai yang terbaik
dalam hidup yang cuma sekali
jadi bila hidup terasa menekan
jangan tergesa merasa lemah
sebab dari situ kita justru semakin tahu
ada hal yang terbaik dalam hidup
yang masih patut dikejar dan diperjuangkan
bahwa ternyata hidup memang
tak selalu mulus dan mudah
bahwa keindahannya justru
akan semakin terasa manakala
tawa dan tangis bergiliran datang
kekuatan dan kelelahan bergantian
bahwa tiba saatnya kita
menepi ke dermaga istimewa
yang selalu terbuka
menyambut setiap pelayar yang lelah
untuk memperbarui lagi kekuatan
hingga perjalanan menjadi mudah
dan mata hati kembali jernih melihat
bahwa mentari masih begitu cerah menyinar
seperti anak kecil
kita selalu bisa berlari ke pelukan
Bapa yang penuh kasih
menangis puas di sana
hingga habis lelah hati
dan terganti oleh damai
di belai sayang-Nya
tina, 20 juli ‘06
Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung;
Dari manakah akan datang pertolonganku?
Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menciptakan langit dan bumi…
sumber: http://www.glorianet.org/index.php/tina/56-saatnya-menepi
==================
aku merasa terberkati baca tulisan diatas.. thanks Tina. JC BU :)
Duka ketidakpastian
"Saya baru saja membaca sebuah artikel yang ditulis Daniel Gilbert, seorang Profesor Psikologi dari Harvard University, judulnya “The unbearable angst of uncertainty”. Di situ dia menulis tentang sebuah eksperimen yang dilakukan peneliti dari Maastricht University di Belanda yang melakukan penelitian pada sekelompok orang dengan memberikan 20 kejutan listrik. Kepada satu kelompok, para peneliti memberitahukan bahwa akan ada 17 kejutan ringan dan 3 kejutan berat, sedangkan kelompok yang lain hanya tahu bahwa mereka akan menerima semua kejutan berat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang justru tahu bahwa mereka cuma menerima 3 kejutan berat, ternyata lebih takut dan kuatir. Jantung mereka berdetak cepat dan mereka berkeringat dingin.
Ini karena orang cenderung lebih stress kala mereka mengetahui kalau sesuatu yang buruk mungkin terjadi, daripada mengetahui sesuatu yang buruk akan terjadi. Kebanyakan orang ternyata, kalau mereka tahu sesuatu yang buruk akan terjadi, walau pada awalnya mereka akan terpukul, setelah beberapa saat mereka akan mulai menerima kenyataan dan bersiap untuk memperoleh yang terbaik dari keadaan yang terburuk.
Ketidakpastian itu adalah beban yang menusuk. Saya jadi ingat satu cerita lagi. Tentang seorang kriminal di Amerika yang divonis hukuman mati. Setelah mencoba pelbagai usaha untuk naik banding, vonisnya tidak berubah. Akan tetapi pada hari H-nya, hukumannya ditunda. Penundaan ini bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali. Entah mengapa, mungkin karena ada kesalahan administrasi. Akhirnya pada hari yang dinanti-nantikan, setelah dengan pasrah, si pesakitan siap menerima nasib...eh....ternyata dibatalkan lagi! Akhirnya saking kesalnya dia malah balik menuntut pemerintah AS, karena dianggap lalai dan menunda-nunda hukuman matinya.
Salah satu duri ketidakpastian adalah karena kita tidak tahu apa yang mesti kita lakukan. Saya ingat, ketika saya memulai bisnis saya. Ternyata tidak berhasil baik. Saya sempat stress. Bukan semata karena usaha saya yang tidak berhasil, tapi karena saya tergantung dalam dilema, dan terjebak dalam lubang kebingungan. Mestikah saya terus bertahan dan menghabiskan uang tabungan saya? Mestikah saya berhenti saja dan kembali jadi karyawan? Kedua-dua langkah mengandung resiko. Jadi berbulan-bulan saya stress karena ketidakpastian, tidak pasti saya akan ke mana, atau apa yang akan terjadi pada saya.
Ketidakpastian, tentu adalah tema sehar-hari sekarang. Dengan krisis ekonomi global ini, tidak jelas apa yang akan terjadi pada pasar saham besok. Mendengar berita PHK di negara-negara paling makmur sekalipun, tidak pasti berapa lama kita bisa duduk di bangku kantor. Mendengar berita flu ini-flu itu, tidak jelas kapan epideminya akan meledak, atau entah virus baru apa lagi besok datang.
Ketidakpastian sekarang bukan hanya melanda orang miskin, tetapi juga orang kaya. Bukan hanya orang tidak berpendidikan, tetapi juga orang-orang pintar. Orang lemah atau berkuasa.
Yesus mengerti. Dunia tidak dapat menyelesaikan persoalan ketidakpastian ini. Selama kita menaruh harap dan rasa aman kita pada sistem dunia, kita tidak akan pernah merasa damai. Itulah sebabnya Dia bersabda, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”
Mungkin tidak ada jawaban instan akan masalah ketidakpastian kita, begitu kita selesai mengucapkan ‘Amin’ dalam doa kita. Namun satu hal pasti, Tuhan bilang, Dia akan berikan kita damai sejahtera yang bukan dari dunia ini. Yang tidak dimengerti dunia ini. Yang ‘kan berikan kekuatan kepada kita untuk terus melangkah.
Kembali pada kisah di atas tentang pengalaman saya. Ya, Tuhan menolong saya. Dan bulan-bulan yang saya habiskan dalam kekuatiran dan stress, sebetulnya sia-sia saja."
Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
sumber :http://www.glorianet.org/index.php/henrylie/1909-duka-ketidakpastian
Dilema itu bukan dilema
Sabtu, 22 Agustus 2009
Dilema
Kamis, 20 Agustus 2009
Arung Jeramnya jadiiiii cihuiiii
Rabu, 19 Agustus 2009
Kita MERDEKA karena Bersatu ( pidato menyambut perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus 2009 )
Bapak proklamasi kita pernah berkata "BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG TIDAK MELUPAKAN SEJARAH!" sekarang mari kita ingat lagi dari mana negara kita bisa merdeka?? ingat MODAL KEMERDEKAAN BANGSA KITA ADALAH PERSATUAN!
Jangan biarkan perbedaan-perbedaan dan keanekaragaman suku , agama, ras, budaya yang ada di bangsa kita menjadikan kita enggan bergandeng tangan! sekali lagi KITA MERDEKA KARENA BERSATU!!
MAKA SEKARANG TANGGALKAN RASA ENGGAN YANG MENGHALANGI KITA BERSATU.. MARI HIDUP DALAM HARMONI YANG INDAH, JANGAN BIARKAN SIAPAPUN DAN APAPUN MENGGANGGU PERSATUAN NEGARA KITA!
dan sekarang saya katakan BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MELAKUKAN PERKARA-PERKARA YANG BESAR! sudah saatnya INDONESIA BANGKIT BERDIRI TEGAK dan MENJADI TELADAN DI TENGAH-TENGAH BANGSA-BANGSA DI DUNIA!
GARUDA DI DADAKU DAN AKU BANGGA MENJADI ORANG INDONESIA!"
:-)